Just a One Way Ticket
11:03 | Author: Aji
Senja itu, matahari masih nampak belum sempurna kembali ke peraduannya; bias merahnya tampak masih begitu tegas – menyayat awan yang mulai nampak kelam.

Di sore seperti ini, suasana kantor memang nampak sangat lengang sekali – perubahan jadwal kerja untuk karyawan produksi memang sangat berdampak atas sangat berkurangnya hiruk pikuk yang terjadi di saat seperti sekarang ini.

Hening sekali.

Hmm.. kantor ini serasa ga berpenghuni sama sekali; gw edarkan pandangan mata gw, jauh ke sekeliling halaman kantor depan. Gambaran gunung yang kokoh itu mulai nampak buram; mulai nampak redup karena cahaya yang mulai nampak temaram.

Dan pandangan mata gw berhenti di satu sosok, yang sedang terduduk di beranda mushola.
Sosok laki-laki pendiam; yang kata orang – nek ora digong mesti ora muni – atau dalam bahasa manusianya (hahaha) adalah : kalo ga diajakin ngobrol, pasti ga bakal ngomong.

Bisa jadi itu wajar, karena lelaki itu memang berada di divisi yang tidak mengharuskannya untuk bertemu dengan banyak orang; sehingga, sifat dasar pendiamnya itu semakin menjadi hari demi hari.

Tanpa basa-basi, gw langsung duduk di sebelahnya; memanjangkan kaki gw, lurus ke depan.

“Ga pulang, Tur?” Nah, ini baru basa-basi. Hahaha.

“Belum, Pak. “

“Lho, kenapa?”

“Masih menikmati senja,” jawabnya – yang lagi-lagi – begitu singkat.

Gw melirik ke Fathur yang sedang duduk di sebelah gw ini; matanya nampak memandang kosong ke depan. Dan dari gaya tubuhnya, gw sangat yakin, pasti ada banyak hal yang sedang berkecamuk di dalam benaknya.

“Mikirin sesuatu, Tur?”

Fathur ngelirik gw.

Gw pun ngakak, “hahaha, iya-iya Tur, memang rada gak lazim ya, laki-laki cerita tentang masalah pribadinya ke orang lain.”

“Dan percayalah Tur, gw ini masih laki-laki normal kok. Hahaha, it’s just, mungkin dengan cerita, bisa ngeringanin beban kamu, dan untungnya buat gw adalah : gw ga mati karena bengong nungguin jam pulang kantor.”

Fathur ikutan ketawa – meskipun ga seberapa lama.

“So?”

“Bukan masalah penting, pak.”

“Masalah apa?”

“Malu pak.”

“Holoh! Kan cuma disuruh cerita, bukan mau dikawinin. Hahaha”

“Kemarin saya ketemu Shinta.”

Nah, kalo ini gw asli ga mudeng. Maklum, gw juga ga seberapa deket ama Fathur ini – jadi, ya maklum kalo dia cuma nyebut nama seperti ini – gw ga bakal ngerti siapa orangnya.

“Shinta?”

“Iya pak, Shinta – seseorang yang pernah dekat dengan saya; 19 tahun yang lalu.”

“Hah?!”

Fathur tersenyum – dengan tanpa mengindahkan rasa kaget gw atas kalimat sembilan belas tahun lalu itu – dia melanjutkan lagi ceritanya.

“Semua jadi seperti berkelebat pak. Saya jadi merasa seperti anak kecil lagi; seperti kembali ke masa lalu; masa dia masih menjadi orang yang dekat di hati saya.”

“Saya ngerasa deg-degan; banyak perasaan aneh yang ikut berkecamuk di dalam hati saya.”

Gw tersenyum. Belum lagi ada kalimat yang terucap dari mulut gw, Fathur kembali melanjutkan kalimatnya lagi, “Kenapa saya jadi seperti jatuh cinta, ya pak?”

Sialan! Kenapa harus pake kalimat tanya segala, wong dari tadi gw ga dikasih kesempatan buat ngomong, kok.

Hening.

“Pak?”

“Eh, udah giliran saya yang ngomong toh?”

“Gini, Tur. Pertama saya pengen tau dulu, apa kabar dia? si Shinta itu lho.”

“Dia baik-baik pak. Sudah jadi orang terkenal, dia.”

“Oh, ya? Sudah nikah?”

“Sudah..,” jawabnya lirih.

“Hmm, saya juga pengen nanya lagi. Kenapa tadi kamu bilang, kalo kamu ngerasa seperti jatuh cinta?”

Fathur diam. Matanya kembali menerawang jauh.

“Kenapa, thur?” tanya gw mengingatkan.

“Apa karena dia sekarang terkenal? Atau, apa karena kamu menyesal tidak bisa bersamanya? Atau apa?”

Fathur masih diam; ada kalimat yang terdengar sedikit samar di telinga gw – mungkin karena sedikit menggumam, “Nggak pak. Saya seperti merasa kembali menjadi anak kecil – yang berdebar-debar saat bertemu dengan gadis pujaan hatinya.”

Suasana kembali hening – seiring dengan matahari yang sudah sepenuhnya hilang di dalam peraduannya.

**
Percakapan kemarin itu memang cuma sampai di situ. Tidak ada lanjutan percakapan yang terjadi antara gw dan Fathur; kadang memang hal-hal semacam itu tidak mudah untuk dibicarakan.

Hal-hal yang menyangkut hati dan perasaan – mungkin memang sebaiknya hanya kita sendiri yang tahu. Iya, kan?

Gw ada satu pertanyaan singkat untuk kalian semua, yaitu : pernah nggak kalian mengalami apa yang dirasakan oleh teman kerja gw itu? Bertemu dengan seseorang yang sudah sekian belas, atau puluh tahun tidak bertemu. Bertemu dengan orang yang dulu (atau bahkan, hingga saat ini?) pernah berada di tempat yang spesial di hati kamu .

Pasti 9 dari 10 orang yang gw tanya akan menjawab iya. Dan karena banyaknya orang yang mengalami hal seperti inilah, yang membuat stasiun TV berlomba-lomba membuat reality show dengan tema serupa.

Salahkah perasaan seperti ini?

Come on! Gw adalah orang yang ga pernah sekalipun menyalahkan seseorang atas perasaan yang timbul di dalam dirinya. We could never control our heart; yang bisa kita lakukan hanya membuatnya menjadi samar, hingga sebisa mungkin tak terlihat oleh orang lain.

Jadi, jelas bukan salah hati kalian, jika tiba-tiba merasakan hal seperti ini.

Manusiawi sekali.

Hanya saja, terkadang, karena hal seperti ini, apa yang terjadi menjadi sangat tidak rasional. Menjadi seperti kehilangan kendali atas dirinya sendiri; dan melupakan kenyataan bahwa ia hidup di masa sekarang ini, bukan di masa lalu.

Terkadang nalar menjadi tertutup; dan hati ini langsung diselimuti oleh bayangan-bayangan masa lalu – yang membuat mata menjadi buta; tak mampu – dan tak mau, melihat kenyataan yang ada di hadapannya.

Jika hal itu yang terjadi, gw menjadi sangat tidak setuju.

Kenapa?

Karena, hidup itu seperti menyusun bata-bata rapuh; yang kita susun dengan segenap cinta yang ada – agar terbangunkan sebuah bangunan kokoh dan indah – yang akan melindungi kita dari hujan dan panas terik, yang menghadang bahtera kehidupan kita ini.

Hm? Apa hubungannya?

Jelas berhubungan; karena cinta di masa lalumu itu juga merupakan bagian dari bata yang membentuk dirimu saat ini.

Dan bata-bata itu berada di dasar bangunan itu.

Percayalah, jika bata-bata itu kamu usik – bukan hanya bata masa lalumu itu yang akan hancur berantakan – tapi juga seluruh bangunan yang mulai nampak terbangun itu.

Semua akan menjadi sia-sia.

Jadi, biarkanlah bata-bata itu selalu berada di sana; yang akan selalu menjadi penopang yang kokoh dari bangunan ini; yang akan selalu menjadi pengingat : bahwa ia akan selalu ada, bersamamu, sepanjang hidupmu.

**
Dan catatan hari ini gw akhiri dengan sebuah kalimat sederhana :

Because we live in the presence, not in our past – and life will only offer us a one way ticket to its future with no turning back. And she (or he) will always be the beautiful part of our memories.
Selamat Pagi!

Catatan kali ini terinspirasi dari kejadian yang gw alami di suatu pagi - beberapa hari yang lalu. Semoga saja bisa dijadikan bahan renungan buat semua yang baca tulisan ini.

Jam di pergelangan tangan kanan gw pas menunjukkan angka tujuh nol-nol. Memang tumben di hari yang masih sepagi ini – gw sudah ada di jalan raya dekat kantor; tempat gw mengais rezeki setiap harinya.

Ya, memang sih; jam masuk kantor sekarang dimajukan – yang tadinya jam kerja dimulai tepat jam delapan pagi; tapi mulai dari minggu ini, jam kerja dimajukan satu jam, jadi pukul tujuh-nol-nol, semua karyawan sudah harus siap dengan rutinitas pekerjaan masing-masing.

Kecuali gw tentu saja.

Bukan karena gw pimpinan, boss, atau apalah – cuma memang faktor lokasi rumah yang nun jauh di sana itu, membuat perhitungan waktu gw menjadi kacau balau.

Cara berhitung satu ditambah satu adalah dua – tidak berlaku sama sekali jika kamu harus melewati jalan Raya Porong.

Bisa jadi, kamu cuma butuh waktu lima belas menit untuk melewati jalan ini. Tapi suatu ketika, bisa jadi, satu jam perjalanan belum bisa menempuh separuh dari sepenggal jalan ini saja.

Math won’t works on this road.

Tapi hari ini beda. Jalanan terasa sangat lengang; rute jalan ini begitu cepat gw lalui. Padahal, pagi tadi, gw berangkat lima menit lebih lambat dari biasanya – since I have to go to ATM to pay my bills.

Hingga akhirnya mendekati kantor – di bundaran Gempol, atau orang biasa menyebutnya sebagai bundaran Apollo; dari jauh, gw lihat kerumunan orang di sepanjang bundaran itu.

Sedang ada demo, kah?

Bukankah, penetapan UMR sudah jauh-jauh hari; dan bukankah tidak pernah terdengar (lagi) selentingan tentang protes sedikit pun?

Dan mobil pun mulai berjalan merambat.

Duh, batin gw, tadinya pengen mecahin rekor pribadi – ga pernah ga telat sampe kantor – jadi gagal dah.

Ada apa ya?

Puluhan orang nampak memenuhi setengah lingkaran dari bundaran jalan itu; dari kejauhan juga nampak mobil patroli polisi yang sedang diparkir menepi.

Ah, pasti ada kecelakaan!

Dan memang benar. Ada sebuah kecelakaan yang terjadi tepat di bundaran itu. Korbannya wanita, yang masih mengenakan helm merah mudanya, dengan baju dan celana jeans biru-nya – nampak tergeletak di tepi bundaran itu.

Warga sekitar nampak berkerumun dan menutupi wajah wanita itu dengan kertas koran seadanya. Darah nampak masih mengalir dari tengkuk si korban. Jelas, wanita itu sudah meninggal di tempat kejadian.

Gw yang harus melewati bundaran itu, mau tidak mau melihat langsung dengan kedua mata gw sosok wanita yang harus kehilangan nyawanya di hari yang masih pagi ini.

Darah yang mengalir – dan bayangan atas kemungkinan yang terjadi pada wanita itu, mau tidak mau membuat gw bergidik.

Pikiran gw langsung menerawang jauh; membayangkan apa yang terjadi pada si wanita itu.

Hmm.

Bisa jadi, seperti yang biasa ia lakukan sebelum berangkat menuju tempat kerja; cium tangan, dan doa restu dari orang-orang tercintanya – telah menjadi ritual wajib – yang tidak bisa tidak ia lakukan.

Mencium tangan dari orang tua tercinta, suami, dan ciuman hangat di kening anak-anak tercintanya – adalah penyemangat hati untuk bekerja dengan lebih giat di hari ini.

Tapi entah kenapa di hari ini ada yang beda. Entah kenapa, hari ini terasa berat sekali untuk meninggalkan orang-orang tercintanya ini.

Seperti ada selaksa rindu – yang entah dari mana datangnya.

“Kenapa, bunda?” suara berat dari sang suami sempat mengagetkannya.

Wanita itu tersenyum.

“Ada yang ketinggalan?” tanya suaminya lagi.

Wanita itu menggeleng, dan mengucap, “nggak Yah, ga kenapa-kenapa kok, bunda cuma sayang sama kalian semua.”

Sang suami tersenyum.

“Adik juga sayaaaanng sekali sama bunda,” ucap si buah hatinya yang baru menginjak usia tiga itu.

Tak terasa, ada butiran air yang meleleh dari kedua matanya.

“Bunda berangkat dulu ya, ayah hati-hati nanti berangkat kerjanya, adik juga – jangan bandel-bandel di rumah..,” ucap wanita itu – memungkasi keadaan yang entah kenapa terasa sedikit pilu.

Di perjalanan, di atas motornya – terasa banyak sekali kejanggalan yang terjadi. Hari terasa begitu hening; bisingnya suara klakson dan deru mesin dari kendaraan-kendaraan besar yang biasa ia dengarkan, kali ini terdengar jauh berkurang dari biasanya.

Ada apa dengan hari ini?

Hingga akhirnya satu kilometer menjelang pabrik tempat ia bekerja. Di tikungan yang nampak sedikit berpasir akibat sisa genangan air – dari hujan dua hari yang lalu.

Kedua tangannya mencengkram erat kemudi sepeda motornya; dan mengurangi sedikit laju kendaraan yang ia naiki.

Tetapi, pagi itu tikungan itu terlalu berpasir – sehingga terlalu licin untuk sekedar berbelok di atasnya. Wanita itu nampak kebingungan untuk mempertahankan posisi tubuh dan kendaraannya.

Ia terjatuh – dan seketika semuanya menjadi gelap.

Beberapa menit kemudian, saat gelap itu berangsur menjadi terang; nampak puluhan orang berlari tergopoh-gopoh ke arah seseorang yang tergeletak tak jauh dari dia.

Ada apa ini?

Terdengar teriakan-teriakan dari warga-warga sekitar, yang sahut menyahut, Kecelakaan.. Kecelakaan… Ayo mas tulungono… (baca : ada kecelakaan, tolong mas, dibantu).
Hm?

Ia pun beranjak dari tempat ia terjatuh. Dibersihkannya beberapa pasir yang menempel di baju dan celananya; dan berangsur berjalan mendekat ke arah kerumunan orang itu.

Ada apa sih?

Nampak seorang wanita yang telah terbujur kaku di antara kerumunan orang itu. Darah segar nampak mengalir dari tengkuk sang wanita; helm pun masih terpasang rapi di kepalanya.

Warga pun dengan sigap menggunakan apapun yang ada – untuk menutupi tubuh dari jenazah wanita itu.

Tiba-tiba semua menjadi hening. Tak terdengar lagi hiruk-pikuk serta teriakan beberapa orang yang meminta pertolongan itu.

Matanya menatap lekat ke arah tubuh yang terbujur kaku di hadapannya.

Helm yang dikenakan korban itu sama persis dengan yang ia miliki; juga baju itu, juga celana jeans biru itu, dan juga sepatu itu.

Masya Allah, itu aku.

Wanita itu terkesiap; hening menyergap – bayangan dari orang-orang tercintanya tiba-tiba berkelebat. Ibu dengan senyumnya yang tulus, suami yang begitu mencintainya hingga saat ini, dan senyum lucu dari sang buah hatinya nampak bagaikan menari-nari di benaknya.

Seandainya saja, hari ini aku terbangun lima menit lebih awal dari pagi ini, mungkin bukan tubuhku yang kulihat terbujur kaku di hadapanku itu. Mungkin aku hanya menjadi segerombolan orang itu – yang menyaksikan tubuh orang lain di situ.

Bayangan orang-orang tercintanya kembali nampak begitu nyata di benaknya.

Buliran panas itu kembali mengalir deras, aku rindu kalian semua.

Astaghfirullah.

Gw pun tersadar dari lamunan gw; seketika gw ambil hape yang tergeletak di atas dashboard; dan menghubungi seseorang yang sangat gw cintai.

“Bunda sudah sampai kantor? Bunda baik-baik kan di sana?”

Dan jawaban iya dari ujung sana kali ini menjadi begitu besar artinya buat gw. Alhamdulillah.

**

Innalillahi waina ilaihi rojiun – and eventually, everyone will return to its creator, Allah SWT.